Oleh: Diyana Mareta Hermawati 2 Perkenalan saya dengan prosa diawali jauh beberapa tahun ke belakang, mungkin sekitar tiga atau empat tahun ke belakang. Saat itu, akhir tahun 2016. Saya mulai menulis prosa walaupun, tulisan itu kadang tak memiliki tujuan. Saya menulis supaya bisa merileksasikan pikiran sebab saat itu kebanyakan anak SMA sedang disibukan oleh materi pengayaan untuk ujian nasional. Tulisan saya kadang berakhir manis dan tragis. Awalnya saya tak memedulikannya. Namun, seiring berjalannya waktu saya mulai mengerti, tulisan tidak akan pernah selesai tanpa dimulai lalu diselesaikan dan tidak akan pernah memiliki tujuan sendiri jika penulisnya saja tidak menyimpan ruh pada tulisannya. Pada akhirnya, setiap orang bisa menulis prosa. Bagaimana caranya? Tinggal tulis! Kau tidak akan bisa menulis tanpa memulai. Beberapa minggu lalu saya membaca buku yang belum sempat selesai dibaca, What I Talk About, When I Talk About Running karya Haruki Murakami−penulis ...