Langsung ke konten utama

Sebuah Sudut Pandang Tentang Kukau Seduhan Ari Kpin

 

Judul               : Iaku, Buku Puisi
Penulis            : Ari Kpin
Penerbit           : Rumput Merah
Tahun              : September 2018
Tebal buku      : 112 + iv halaman
ISBN               : 978-602-60309-3-1

... menghilang seperti mimpi tentangmu, tentang rumah
tentang kanak-kanak berwajah kukau – (“Fragmen Nyamuk”, Ari Kpin)
Cuplikan puisi di atas sedikitnya sudah menggambarkan bagaimana ‘aku’ dan ‘kau’ selalu terlibat dalam gonjang-ganjing sebuah kisah. Buku kumpulan puisi ini adalah buah karya seorang yang namanya sudah tersohor sebagai pemusikalisasi puisi di khalayak umum. Yari Jomantara atau yang kita kenal sebagai Ari Kpin adalah pemusik yang bersastra, banyak sekali sastrawan yang karyanya sudah dimusikalisasi olehnya.
Album musikalisasi puisi kaya Ari Kpin: Solitude (Maret 1995), Trisakti (dari antologi Tangan Besi, kumpulan puisi reformasi penyair Jawa Barat), Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan ( 2003, dari puisi-puisi yang diterbitkan Granada), Negeri Sihir (2004, dari kumpulan puisi Nenden Lilis A.), Nyanyian Anak Pertiwi (2005, kumpulan puisi Tetet Cahyati), Ikebana ( 2006, kumpulan puisi Cecep Syamsul Hari), Derai-Derai Cemara ( 2007, kumpulan puisi karya penyair terkemuka Indonesia), Taman Puisi ( dari kumpulan puisi karya Sides Sudyarto D.S.), Mata Hitam ( dari puisi 2 karya Rendra), Mencintai Puisi melalui Musik (musikalisasi puisi-puisi untuk diklat musikalisasi puisi guru-guru tingkat nasional), Seri Puisi Jerman ( dari karya 2 penyair Jerman), Sahak yang Mudah digubah (dari kumpulan puisi penyair Korea Yun Dong Ju), album puisi-puisi Bajang, dan album puisi-puisi Ika Mustika. Total karyanya ada 14 album, setiap album yang dimusikalisasi rata-rata berisi 12 puisi, sudah ratusan puisi yg dimusikalisasi oleh Ari Kpin. Itu yang sudah dialbumkan, belum termasuk yang belum dikumpulkan dalam sebuah album. Sudah ratusan puisi yang dimusikalisasi oleh Ari Kpin, karya-karyanya bisa dinikmati di kanal Youtube miliknya, jadi tidak usah diragukan lagi keahliannya di bidang ini.
Kumpulan puisi Iaku berisi 99 puisi yang ia tulis dari tahun 2005- 2018.  Suasana yang dihadirkan dalam puisi-puisinya  dominan sendu mendayu. Dari banyaknya puisi dalam buku Iaku terdapat beberapa puisi yang menarik diantaranya “Fragmen Nyamuk”, “Hah?!”, “Iaku”, “Ku Seduh Senyummu”, “Melamun”, “Bon”, “Senyuman” dan “Raflesia, Ini Bukan Puisi”.
Puisi “Fragmen Nyamuk”, “Aku Hanya Ingin Mengecup”, dan “Kuseduh Senyummu”  menggunakan dwi bahasa yaitu bahasa Indonesia yang dikolaborasikan dengan bahasa Sunda, di sini terlihat jelas bahwa latar belakang penyair adalah urang Sunda. Dari tiga puisi dwibahasa “Fragmen Nyamuk” yang paling menjabarkan bagaimana romansa tidak melulu bahagia—romansa atau kisah percintaan bisa saja tragis karena berakhir dengan angan-angan saja terlihat dari bait ketiga: ...lalu ngiung-ngiung-ngiung.../ sang reungit pergi tanpa sempat kukepruk/ menghilang seperti mimpi tentangmu, tentang rumah/ tentang kanak-kanak berwajah kukau//.
Puisi ini jelas menggambarkan elegi patah hati, bahwa nyamuk juga menertawakan kesepian aku lirik—angan-angan tentang harapan untuk bersama dengan seseorang. Diksi “kukau” juga terlihat sangat berbeda dari puisi-puisi kebanyakan karena maksud “kukau” pada puisi merujuk pada akronim yang dijabarkan sebagai “aku” dan “kau”, betapa romantis sekaligus tragis. Puisi bernuansa romansa tragis juga tersirat dalam puisi “Melamun” yang secara eksplisit memberitahu bahwa melamun sangat sederhana  ... /sesederhana mengandaikan kamu jadi pacarku/.... Romansa terlihat jelas bahwa yang ada dalam lamunan tidak jauh dari pengandaian “aku” dan “kamu” bisa bersama.
           Selain puisi bernuansa romansa yang dominan dalam buku puisi ini ada juga puisi bertema satire yaitu puisi  “Wakil Rakyat 1” dan “Raflesia, Ini Bukan Puisi”. Dalam puisi “Raflesia, Ini Bukan Puisi” maksud penyair menghadirkan ini adalah perihal idealisme seseorang—teguh pendirian yang kosong—tidak kritis dalam berpikir dan tidak melihat suatu masalah atau sesuatu dari sudut pandang lainnya; seseorang yang anti kritik. Puisi “Wakil Rakyat 1” sangat jelas maksud penyair menyindir calon pemimpin negeri ini, apalagi hari ini pemilu sedang hangat-hangatnya menjadi sorotan warga negara, calon pemimpin sibuk mengobral janji ke sana ke mari .../bahkan/ kecoa/ pun/ tahu/ mulutmu/ lebih busuk/ dari/ baunya//.
         Kelebihan buku puisi ini adalah cara pengemasan puisi yang menarik—menghadirkan diksi akronim “kukau” dan “iaku”. Tema yang diangkat kebanyakan terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan pembaca mengalami apa yang dialami aku lirik sehingga buku puisi ini mempunyai daya tarik tersendiri apalagi pembaca yang baru dewasa; remaja, sedangkan kelemahan buku ini pada beberapa puisi harus dibaca ulang agar dapat memahami maksud penyair dalam puisi yang dihadirkan karena diksi akronim yang dihadirkan penyair belum tentu dipahami semua pembaca, apalagi pembaca pemula—mereka akan bertanya-tanya apa maksud “kukau” dan “Iaku” serta adanya puisi dwibahasa yang dihadirkan juga menyulitkan pembaca yang bukan suku Sunda tetapi untungnya dalam buku ini sudah dilengkapi note terjemahan pada sudut bawah buku sehingga pembaca yang bukan dari suku Sunda tetap dapat menangkap maksud puisi yang ingin disampaikan penyair. Secara keseluruhan buku puisi ini patut untuk diapresiasi karena penyair mendobrak sisi lain pemilihan diksi menjadi penciptaan diksi baru.
***

(Fitri Kurniasih)


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Kafka Tamura dan Satoru Nakata dalam Dunia Kafka

Awal tahun 2019, saya mulai merapikan buku yang bercecer di kamar kostan. Teringat salah satu buku Haruki Murakami tak ada di tempatnya, rupanya satu tahun lalu, salah satu kawan meminjam buku yang masih sebulan di tangan dan belum sempat diakrabi. Buku itu menginap cukup lama dan tak kunjung pulang. Menjelang pertengahan Maret, tibalah kepulangannya dan bergabung dengan kawannya di rak. Berhubungan dengan hal itu, saya mengakrabi Dunia Kafka karangan Haruki Murakami dengan berbagai pose saat membaca. Butuh waktu hampir dua bulan menyelesaikan semua keakraban dengan Dunia Kafka, salah satunya karena ketebalan buku itu sendiri.   Perjalanan Dunia Kafka terbagi dengan dua plot berbeda. Plot pertama berkisah mengenai Kafka Tamura yang melarikan diri dari rumah. Kafka merupakan anak berusia 15 tahun, anak dari seorang pemahat patung terkenal di Tokyo. Kafka diceritakan memiliki alter ego bernama gagak. Di perjalanan melarikan diri ke Takamatsu, Kafka bertemu dengan Sakura ...

Membaca Kepedihan Perempuan dalam Wajah Terakhir; Mona Sylviana

sumber gambar: https://tinyurl.com/y4js4kqc             Sebelumnya, saya tidak tahu siapa penulis buku Wajah Terakhir. Mona Sylviana sangatlah asing di telinga. Mungkin karena saya kurangnya menelusuri hingga memperdalam buku yang tersebar dimana-mana. Pada mulanya saya pikir Mona Sylviana adalah penulis luar, entahlah. Tapi, Mona adalah perempuan kelahiran Bandung. Perkenalan pertama dengan Mona Sylviana berawal dari sebuah diskusi reboan ASAS―dua puisi saya yang termuat di Pikiran Rakyat dan Radar Cirebon ― dengan seorang senior di ASAS. Beliau memberikan banyak petuah, hingga pada akhirnya meminjamkan saya buku Mona.             Membaca Wajah Terakhir Mona Sylviana membuat saya teringat pada O.Henry. Saya mengenal O.Henry 2016 lalu saat seorang kawan menyarankan membaca tulisannya, hingga pada akhirnya saya mendapatkan buku miliknya di sebuah bookfair. Hadiah Ke...

Sajak-sajak Choi, Jun: Kacamata Ingatan yang Menggenang

oleh: Diyana Mareta Hermawati sumber gambar: https://petramas.co.id/product/orang-suci-pohon-kelapa-kumpulan-sajak-hc-7ecc Tanpa Ayah, aku berbaring sendirian di tempat tidur setiap Malam dengan kacamata kenangan Ibu meraba-raba Ayah di dalam album usang Semalam suntuk membolak-balik halaman kenangan Memasuki kembali nyanyian lama Bagaikan biduan yang terlupakan (Choi, Jun “Kenangan, Cibubur”) SESUATU dalam karya sastra disebut puitis bila hal itu membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, secara umum bila hal itu menimbulkan keharuan (Pradopo, 2012, hlm. 13). Berhubungan dengan ungkapan Pradopo, seorang penyair asal Korea kelahiran Kabupaten Jeongseon, Provinsi Gangwon, Korea, tahun 1963, yaitu Choi, Jun menuangkan kepuitisannya dalam menulis sajak. Penyair belajar sajak di Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Korea, Universitas Kyung Hee. Dia sempat tinggal di Indonesia selama lima tahun dalam rentang tahun 2000 sampa...