sumber gambar: https://tinyurl.com/y4js4kqc
Sebelumnya, saya tidak tahu siapa
penulis buku Wajah Terakhir. Mona
Sylviana sangatlah asing di telinga. Mungkin karena saya kurangnya menelusuri
hingga memperdalam buku yang tersebar dimana-mana. Pada mulanya saya pikir Mona
Sylviana adalah penulis luar, entahlah. Tapi, Mona adalah perempuan kelahiran
Bandung. Perkenalan pertama dengan Mona Sylviana berawal dari sebuah diskusi reboan
ASAS―dua puisi saya yang termuat di Pikiran
Rakyat dan Radar Cirebon― dengan
seorang senior di ASAS. Beliau memberikan banyak petuah, hingga pada akhirnya
meminjamkan saya buku Mona.
Membaca Wajah Terakhir Mona Sylviana membuat saya teringat pada O.Henry.
Saya mengenal O.Henry 2016 lalu saat seorang kawan menyarankan membaca
tulisannya, hingga pada akhirnya saya mendapatkan buku miliknya di sebuah bookfair. Hadiah Kejutan, satu dari 7
cerpen miliknya dalam kumpulan cerpen Cinta
yang Hilang telah terkenang, menghibur, dan mengejutkan. Suspense yang
dihadirkan membuat pembaca tak sadar karena menikmati cerita yang dibuatnya
hingga dikejutkan dengan akhir yang tak terduga.
Tak jauh dengan O.Henry, dalam 13
cerpen Mona Sylviana, membuat saya terkagum-kagum dengan cerita yang ditulisnya.
Pada cerpen-cerpennya, Mona mengajak pembaca memahami keadaan perempuan yang
berbeda pengalaman maupun latar belakang. Hal yang diangkat oleh Mona hampir
mirip dengan penulis perempuan asal Sumatera; Yetty A.KA, yang mengangkat
perihal kepedihan perempuan. Namun, Mona mengangkat kepedihan perempuan yang
digambarkan dengan tak tanggung-tanggung dan membuat pembaca akan sedikit jijik.
Seperti pada seorang perempuan yang mengidap penyakit sifilis yang digambarkan
sangat sengsara pada cerpen Mata Marza―cerpen
yang berkesan bagi saya. Marza yang merupakan pelacur sangatlah menderita
dengan keadaannya yang mengidap sifilis dan harus bertahan hidup di dunia yang
kejam. Hingga pada akhirnya kekejaman yang harus dihadapinya direnggut Yang
Maha
Kuasa.
Marza
membuka celana. Kulit ari di sekitar selangkangan mengelupas menempel di celana
dalam. Marza jongkok dan menunduk. Air kuning kemerahan mengalir dari vagina.
Air pekat itu keluar bersama bau nanah. Busuk menyeruak. (Sylviana, 2011: 116)
Pada pembuka, cerpen Pernikahan (Kisah Perempuan Nadin), membuat saya kebingungan akan
apa yang akan disampaikan oleh Mona dan hampir membuat saya melanjutkan pada
cerpen selanjutnya. Namun, rupanya, penulis ingin mengajak pembaca sadar akan
keadaan ketertekanan seorang perempuan sebelum menikah, seperti yang
digambarkan pada tokoh Nadin. Setelah melihat pertengkaran ayah dan ibunya,
Nadin yang mendengar sahabatnya Sasha akan menikah merasa bahagia sekaligus
terluka. Begitupun ketika Nadin akan menikah.
“Pengalaman
bilang begitu. Pengalaman enggak pernah salah. Perempuan itu diminta sabar.
Menyenangkan. Nurut. Apa bedanya dengan gelantungan di utas rambut di pinggir
jurang? Enggak ada bedanya! Cerai? Hah! Susah. Bercerai malah banyak nanggung
susah. Dimaki-maki orang. Dianggapnya enggak becus melayani suami. Disalahkan
kiri-kanan. Tapi… tapi enggak berarti kalua ada hajatan kawinan kamu boleh
teriak-teriak. Kamu kan anak ibu yang baik, Nadin. Dengar, ya, Nak? Kamu enggak
boleh keluar rumah dulu. Apalagi banting-banting piring di tempat hajatan.
Numpahin sayur. Ngacak-ngacak kamar pengantin. Enggak boleh…” (Sylviana, 2011: 11)
Berbeda halnya dengan cerpen Ba(o)rok dan Tak Ada Bulan
Bob pun Jadi, dua cerpen yang berhasil membuat kejutan tak terduga. Seperti
pada cerpen Tak Ada Bulan Bob pun Jadi, pembaca
akan disuguhkan dengan perjalanan pengemudi mobil dan segala kerisauannya,
hingga pada akhirnya disuguhkan dengan peristiwa seorang anak yang membunuh kucingnya.
Sejenak saya berpikir kenapa harus kucing yang dibunuh? Apa hubungannya dengan
bulan? Namun, saya mengAmini bahwa membunuh bulan yang tak bisa dilakukan
seorang anak adalah sebuah kepolosannya hingga pada akhirnya membunuh
kucingnya.
Memandang Mona, saya pikir Mona pada buku ini tidak
selamanya memandnag perempuan sebagai korban. Namun, dia menghadirkan perempuan
dengan latarbelakang seorang yang tertekan dan bertekad membalaskan dendamnya―cerpen
Aroma Mesiu dan Wajah Terakhir. Pada cerpen Wajah
Terakhir, Mona membuat tokoh Maria yang bertekad membalaskan dendamnya
kepada orang yang memperkosanya.
Perempuan selalu dikategorikan dengan manusia yang
lugu dan lemah. Namun, Mona pada cerpen dalam kumpulan cerpen ini bertujuan
memberikan pemahaman bahwa perempuan yang lemah memiliki kekuatan yang
tersimpan. Pengalaman, ketertekanan, ketertindasan membuat seorang perempuan
menjadi lebih menakutkan.
Pada cerpen Mata
Andin layaknya O.Henry, Mona membuat pembaca menduga-duga akan apa yang
terjadi pada Andin. Diceritakan Andin yang sengsara menghadapi keluarganya yang
miskin. Namun, lagi-lagi Mona membawa pembaca pada penutup cerita yang
mengejutkan. Cerita yang diangkat pada cerpen ini sangatlah sederhana,
mengalir, dan membawa pada kenyataan bahwa sebuah kemiskinan akan membuat
seseorang melakukan apapun untuk bertahan hidup, walaupun harus mengorbankan
organ tubuhnya untuk dijual guna bertahan hidup.
Mona Sylviana telah memotret
kepedihan perempuan yang tertindas dan harus menghadapi kehidupan yang kejam. Penggambaran
yang dibawa oleh Mona berhasil membuat pembaca terpikat dan merasa memiliki
kesengsaraan yang sama seperti yang dialami oleh tokoh-tokohnya, begitupun pembaca
akan mendapatkan wawasan yang lebih mengenai suatu peristiwa di sekitarnya
lebih dalam, bahwa hal yang tampak menjijikan sekalipun memiliki kehidupan yang
menyedihkan dan menginginkan kehidupan yang normal layaknya kebanyakan orang.
Sumedang,
28 Januari 2019
Komentar
Posting Komentar