Langsung ke konten utama

Perjalanan Kafka Tamura dan Satoru Nakata dalam Dunia Kafka


Awal tahun 2019, saya mulai merapikan buku yang bercecer di kamar kostan. Teringat salah satu buku Haruki Murakami tak ada di tempatnya, rupanya satu tahun lalu, salah satu kawan meminjam buku yang masih sebulan di tangan dan belum sempat diakrabi. Buku itu menginap cukup lama dan tak kunjung pulang. Menjelang pertengahan Maret, tibalah kepulangannya dan bergabung dengan kawannya di rak.

Berhubungan dengan hal itu, saya mengakrabi Dunia Kafka karangan Haruki Murakami dengan berbagai pose saat membaca. Butuh waktu hampir dua bulan menyelesaikan semua keakraban dengan Dunia Kafka, salah satunya karena ketebalan buku itu sendiri.
 
Perjalanan Dunia Kafka terbagi dengan dua plot berbeda. Plot pertama berkisah mengenai Kafka Tamura yang melarikan diri dari rumah. Kafka merupakan anak berusia 15 tahun, anak dari seorang pemahat patung terkenal di Tokyo. Kafka diceritakan memiliki alter ego bernama gagak. Di perjalanan melarikan diri ke Takamatsu, Kafka bertemu dengan Sakura saat berada dalam kereta, mereka bertukar nomor telepon untuk berjaga-jaga barangkali suatu saat Kafka membutuhkan pertolongan. Dan perkiraan tersebut benar, pada suatu malam, Kafka tak sadarkan diri dengan kaos putihnya berlumur darah di sebuah kuil. Namun, Kafka sama sekali tak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya. 

Di Takamatsu, Kafka tinggal di sebuah penginapan. Dia menghabiskan waktunya dengan datang ke perpustakaan Komura di daerah tersebut. Dia bertemu dengan Oshima―petugas perpustakaan― dan Nona Saeki. Pelariannya ke Takamatsu membuat Kafka terjerat kasus pembunuhan, ketika ayahnya tiba-tiba ditemukan mati mengenaskan. Dia dicari polisi, karena hal itu Oshima menolongnya dengan membuat dia tinggal di villa milik keluarganya di bukit yang jauh dari peradaban. Kafka sendiri terjebak dengan hubungannya dengan Nona Saeki yang diduganya adalah ibunya yang melarikan diri saat dia berusia empat tahun. Dalam pelariannya itu, Kafka mencari ihwal identitas dirinya.

Plot kedua berkisah mengenai Satoru Nakata, lelaki tua yang dikisahkan memiliki kemampuan luar biasa―berbicara dengan kucing― setelah kecelakaan yang dialami saat dia kecil. Kemampuannya berbicara dengan kucing membuatnya bekerja sebagai penemu kucing hilang. Pada suatu kasus saat mencari kucing milik nonya Koizumi, Nakata dihadapkan pada suatu masalah yang membuatnya bertemu dengan Johnie Walker yang menjadi dalang hilangnya kucing-kucing di daerahnya dan merupakan seorang maniak organ dalam kucing. Pertemuan Nakata dengan Johnie Walker membuat Nakata harus membunuh Johnie Walker demi menyelamatkan kucing. Setelah itu, Nakata meninggalkan tempat tinggalnya. Dia pergi demi mencari batu terbuka. Di perjalanan, Nakata bertemu dengan banyak orang, salah satunya Hoshino yang membantunya hingga dia mendapatkan batu masuk, berkat bantuan Kolonel Sanders. Selain itu, banyak hal-hal tak terduga seperti hujan ikan dan lintah. Nakata pun kehilangan kemampuan berbicara dengan kucing.

Sekilas, begitulah perjalanan Kafka Tamura dan Satoru Nakata. Dunia Kafka merupakan novel ke sepuluh dari Haruki Murakami. Samahalnya dengan novel 1Q84, Haruki khas dengan surealisme dalam karyanya. Surealisme sendiri mementingkan aspek bawah sadar manusia dan nonrasional dalam citraan (di atas atau di luar realitas atau kenyataan), aliran ini ingin melukiskan kehidupan dan pembicaraan alam bahwa sadar, alam mimpi, segala peristiwa dilukiskan terjadi dalam waktu yang bersamaan dan serentak, realitas mimpi dan khayalan seolah tidak ada batas-batasnya, inilah yang disebut dengan super realisme atau melampai kenyataan.

Pada Dunia Kafka, alur yang dihadirkan oleh Haruki Murakami agak lambat, sehingga peristiwa-peristiwanya hadir tak terduga, bahkan diluar nalar. Entah bagaimana Nakata bisa menghadirkan hujan lintah saat perjalanannya ke Takamatsu. Hal ini berawal ketika tiba-tiba dia teringat peristiwa saat menusuk Johnie Walker. 

           Nakata menatap langit, lalu dengan perlahan dia membuka payungnya dan menggunakannya. Dengan hati-hati, dia mundur beberapa langkah, memberi jarak antara dirinya dan kelompok tersebut. Dia memperhatikan sekeliling, lalu mundur lagi beberapa langkah. (Murakami, 2016, hlm 244).
         Hujan lintah berlangsung beberapa saat, setelah itu mereda hingga akhirnya berhenti. Nakata melipat payungnya, membersihkan lintah-lintah itu, lalu menghampiri orang yang terluka untuk memeriksa keadaannya. (Murakami, 2016, hlm 245).

Melihat hal itu, walaupun peristiwa hujan lintah di luar nalar, saya menduga ada hubungan antara kehadiran hujan lintah dengan Nakata. Meskipun peristiwa itu tak bisa dijelaskan secara rasional. Bahkan kehadiran makhluk yang tak dijelaskan bentuknya pun menjadi hal di luar nalar seseorang bisa muncul begitu saja. Makhluk itu muncul dari mulut Nakata setelah dia meninggal. Hoshino yang membantunya dalam perjalanan, memiliki tugas untuk membunuh makhluk itu sebelum makhluk itu masuk ke batu masuk.

         Apakah dia sejenis parasit yang selama ini bersembunyi di dalam tubuh parasite? Atau apakah dia roh dari orang tua itu? Tidak, tidak mungkin. Perasaannya mengatakan makhluk yang mengerikan itu tidak mungkin berada di dalam tubuh Nakata. Bahkan aku saja tahu itu. Dia pasti muncul dari tempat lain, dan dia berusaha masuk ke dalam tubuh Tuan Nakata untuk menuju ke pintu masuk. Dia akan muncul jika dia ingin muncul, memanfaatkan Tuan Nakata sebagai jalan untuk tujuannya sendiri. Dan aku tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Karena itu aku harus membunhnya. Seperti yang dikatakan si kucing. Singkirkan dia dengan prasangka yang ekstrem. (Murakami, 2016, hlm 577).

Entah kenapa, lagi-lagi saya teringat pada makhluk kecil yang dihadirkan Haruki Murakami pada 1Q84. Makhluk yang bisa menimbulkan perkara buruk, yang muncul dari makhluk lain. Pada Dunia Kafka, saya menduga kehadiran makhluk itu menjadi dalang dari hilangnya seluruh ingatan Nakata saat kecil. Karena Haruki membawa surealisme dalam karyanya ini, hal itu bisa saja terjadi. Misalnya, pada saat Nakata kecil dibawa ke bukit mangkuk oleh gurunya, tiba-tiba dia menemukan kain penuh darah milik gurunya yang dibuang sembarang. Nakata ditampar sampai pingsan, saat sadar, dia kehilangan semua ingatannya, seolah telah terlahir kembali. Tiba-tiba dia memiliki kemampuan berbicara dengan kucing, terjerat kasus penculikan kucing dan membunuh Johnie Walker, terjebak dengan peristiwa hujan ikan dan lintah, sampai pada akhirnya dia meninggal sebelum batu terbuka ditutup.

Sisi lain, oedipus complex menjadi bunga cerita dalam Dunia Kafka. Menurut Freud oedipus complex adalah masa ketika seorang anak laki-laki secara normal menunjukkan rasa erotiknya kepada ibunya; sedangkan anak perempuan menunjukkan perasaan tersebut kepada ayahnya. Kafka Tamura dalam Dunia Kafka merupakan representasi oedipus complex (yunani) yang memiliki hasrat ingin mengawini ibunya, bercinta dengan kakaknya, dan membunuh ayahnya.

           “Aku punya adik laki-laki yang seusia denganmu,” tiba-tiba dia bercerita padaku, seolah-olah baru ingat. “Berbagai hal terjadi, dan sudah lama sekali kami tidak bertemu…” (Murakami, 2016, hlm 23)
           “Menurutku, mungkin lebih pantas disebut kutukan ketimbang ramalan. Ayahku mengatakannya padaku berulang-ulang. Seolah-olah dia memahat setiap kata ke dalam otakku.” Aku menarik nafas panjang serta memeriksa kembali apa yang hendak aku sampaikan. Bukan karena aku memang perlu memeriksanya―karena kata-kata itu selalu ada, menghantam kepalaku, tidak peduli apakah aku memeriksanya atau tidak. Tapi aku mesti mempertimbangkan kata-kata itu sekali lagi. Dan inilah yang aku katakan: “Suatu hari kelak aku akan membunuh ayahmu dan meniduri ibumu, katanya.” (Murakami, 2016, hlm 255-256)

Oedipus complex yang dihadirkan oleh Haruki masih dalam alur surealisme yang dibangun. Hal yang sama berada di luar nalar adalah ketika Kafka terbangun di sebuah kuil dengan pakaian yang berlumur darah tepat di hari yang sama ketika ayahnya meninggal. Sebagian ingatannya hilang. Jika melihat konsep oedipus complex, bisa saja yang membunuh ayahnya adalah Kafka sendiri. Namun, dilihat dari runtutan peristiwa, sangat mustahil Kafka bisa membunuh ayahnya dalam waktu yang singkat, sedangkan Kafka sedang dalam pelarian di Takamatsu dan ayahnya berada di Tokyo.
Mengingat hal ini, ada sedikit keterkaitan antara matinya ayahnya Kafka dengan Nakata yang membunuh Johnie Walker. Haruki tidak menjelaskan secara rinci siapa Johnie Walker sendiri selain seorang dalang penculikan kucing dan maniak organ dalam kucing. Namun, kemungkinan lain, bisa saja Johnie Walker adalah ayahnya Kafka, sebab matinya Johnie Walker dengan ayahnya Kafka sama-sama ditusuk di perut tanpa ada bekas kekerasan lain.

Oedipus Complex ini membawa Kafka Tamura pada banyak pertanyaan. Salah satunya, pencarian identitas dirinya, bahkan bukan hanya Kafka. Sekian tokoh yang dihadirkan Haruki memiliki identitas yang penuh pertanyaan. Salah satunya adalah tokoh Oshima.

            Kadang-kadang aku sendiri tidak mengerti. Misalnya, apakah aku ini? Sungguh, apakah aku?”
                        Aku menggelengkan kepala. “Ya, aku juga tidak tahu apakah aku.”
                        “Krisis identitas yang klasik”
(Murakami, 2016, hlm 229)

Pelariannya dari rumah dan kematian ayahnya yang mendadak, mengharuskan Kafka bersembunyi di bukit milik Oshima―perempuan penjaga perpustakaan Komura yang selalu dia datangi dan menjadi tempat bekerjanya― mempertemukannya dengan tentara yang hidup di dalam hutan. Entah dimana bukit milik Oshima berada, namun, saya menduga bukit milik Oshima merupakan bukit mangkuk tempat Nakata kehilangan seluruh ingatannya saat kecil. Alur dari setiap plot yang dihadirkan Haruki pun berujung pada bukit itu, dimana ketika batu yang dicari-cari Nakata terbuka, Kafka masuk ke dunia yang bukan dunia asalnya―dunia limbo. Di sana dia bertemu dengan Nona Saeki yang di dunia asalnya telah meninggal. Kafka diminta untuk kembali ke dunia asalnya sebelum pintu ke dunia asalnya tertutup, bersamaan dengan hal itu, Hoshino sedang berusaha menutup pintu batu masuk.

Surealisme yang dihadirkan Haruki dalam Dunia Kafka cukup memusingkan ketika batas dunia realitas dan dunia lain―dunia limbo― berada pada waktu yang sama. Perlu waktu yang agak lama memahami setiap peristiwa-peristiwa yang dibangun.

Namun, hal yang mengasyikan yang bisa diambil dari Dunia Kafka adalah bagaimana kecerdikan Haruki dalam memadukan dunia realitas dan dunia lain dalam waktu yang sama, bahkan sekilas tampak seolah berada pada dunia realitas seperti normalnya. Selain itu, bagaimana Haruki menghadirkan tokoh-tokohnya dengan perlahan, sampai saya sebagai pembaca terbawa pada alur yang dibuatnya. Seperti nama tokoh yang dia ambil dari merek wiski skotch (Johnie Walker), ikon KFC (Kolonel Sanders), namun, sayangnya Haruki kurang menekankan kepentingan nama-nama itu hadir menjadi nama tokoh dalam Dunia Kafka. Lalu, kehadiran alter ego Kafka yang sedikit mengganggu, karena hanya hadir ketika Kafka tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
 
Kemudian, plot twist yang dihadirkan oleh Haruki di akhir cerita membuat cerita yang berjalan agak lambat dengan dibumbui peristiwa-peristiwa di luar nalar, tiba-tiba berakhir dengan perubahan yang tajam dan sangat mendadak. Kafka Tamura kembali ke Tokyo setelah pelariannya, dan Nakata telah meninggal. Tidak ada penyelesaian yang menjelaskan mengenai apa yang akan terjadi dengan batu masuk misalnya. Maka dari itu, mari kita berdiskus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stres; Lepaskan Kepalaku! dalam Cerpen Bakdi Soemanto; Kepala

APA yang akan terjadi jika kepala mu terlepas? Atau apa yang akan kau lakukan saat kepalamu terlepas? Saya bertanya pada kawan dekat saya, sebagian dari mereka menjawab ‘mati’ sebagian lagi malah menertawakan. Katanya saya sedang bercanda. Tapi sungguh, kau tahu? Saya tidak sedang bercanda. Bakdi Soemanto yang membuat pertanyaan itu menyeruak. Dia seorang penulis asal Solo. Dalam cerpennya yang berjudul ‘Kepala’, cerpen yang sempat dimuat di koran Kompas pada tanggal 15 April 1984 ini menarik perhatian saya. Saat membaca pembukaan cerpen ini, saya sempat berpikir untuk tidak melanjutkan membaca cerpen lebih lanjut. Cerpen ini tidak memiliki hal yang mudah untuk dicerna. Kita sebagai pembaca dipaksa untuk memikirkan jalan keluar bagi masalah yang sedang terjadi pada tokoh utama. Bagi saya, cerpen ini memiliki sisi yang unik untuk dikaji. Baiklah saya akan mengulas sedikit cerpen Bakdi Soemanto ini. Cerpen ‘Kepala’ yang dimuat di koran Kompas ini membuat saya bertanya-tanya. ...

Membaca Kepedihan Perempuan dalam Wajah Terakhir; Mona Sylviana

sumber gambar: https://tinyurl.com/y4js4kqc             Sebelumnya, saya tidak tahu siapa penulis buku Wajah Terakhir. Mona Sylviana sangatlah asing di telinga. Mungkin karena saya kurangnya menelusuri hingga memperdalam buku yang tersebar dimana-mana. Pada mulanya saya pikir Mona Sylviana adalah penulis luar, entahlah. Tapi, Mona adalah perempuan kelahiran Bandung. Perkenalan pertama dengan Mona Sylviana berawal dari sebuah diskusi reboan ASAS―dua puisi saya yang termuat di Pikiran Rakyat dan Radar Cirebon ― dengan seorang senior di ASAS. Beliau memberikan banyak petuah, hingga pada akhirnya meminjamkan saya buku Mona.             Membaca Wajah Terakhir Mona Sylviana membuat saya teringat pada O.Henry. Saya mengenal O.Henry 2016 lalu saat seorang kawan menyarankan membaca tulisannya, hingga pada akhirnya saya mendapatkan buku miliknya di sebuah bookfair. Hadiah Ke...