oleh: Diyana Mareta Hermawati
sumber gambar: https://petramas.co.id/product/orang-suci-pohon-kelapa-kumpulan-sajak-hc-7ecc
Tanpa Ayah, aku berbaring sendirian di tempat tidur
setiap
Malam
dengan kacamata kenangan
Ibu meraba-raba Ayah di dalam album usang
Semalam suntuk membolak-balik halaman kenangan
Memasuki kembali nyanyian lama
Bagaikan biduan yang terlupakan
(Choi, Jun
“Kenangan, Cibubur”)
SESUATU dalam karya sastra disebut puitis bila hal itu
membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas,
secara umum bila hal itu menimbulkan keharuan (Pradopo, 2012, hlm. 13).
Berhubungan dengan ungkapan Pradopo, seorang penyair asal Korea kelahiran
Kabupaten Jeongseon, Provinsi Gangwon, Korea, tahun 1963, yaitu Choi, Jun
menuangkan kepuitisannya dalam menulis sajak. Penyair belajar sajak di Jurusan
Bahasa dan Kesusastraan Korea, Universitas Kyung Hee. Dia sempat tinggal di
Indonesia selama lima tahun dalam rentang tahun 2000 sampai 2005. Tinggalnya
Choi, Jun di Indonesia menghasilkan sebuah kumpulan sajak berjudul Orang Suci, Pohon Kelapa yang merupakan
cetakan pertama pada Oktober 2019 dan diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer
Gramedia), Jakarta. Kumpulan sajak ini diterjemahkan oleh Kim Young Soo dan
Nenden Lilis A, dengan editor Candra Gautama, perancang sampul Choi, Jun, dan
penata letak Teguh Erdyan dan Wendie Artswenda. Puisi dalam kumpulan sajak
tersebut berjumlah 61 judul. Kumpulan sajak Orang
Suci, Pohon Kelapa sendiri diterbitkan atas dana bantuan bagi penciptaan
karya sastra dari Arts Council Korea tahun 2007.
Membaca
dan memperdalam 61 sajak karya Choi, Jun dapat membangkitkan perasaan sampai
keharuan bagi pembaca. Pasalnya, penyair merupakan penyair asing yang sempat tinggal
di Indonesia yang memiliki banyak kebudayaan dan tradisi yang tentunya berbeda
dengan negara asalnya. Membaca sajak-sajaknya seolah menyeret pembaca kepada
perenungan yang mendalam seorang penyair. Hal ini bisa dilihat dari sajak "Kenangan, Cibubur" yang menggambarkan
sebuah rumah tanpa seorang Ayah sehingga kenangan-kenangan tenggelam dalam kacamata
kenangan dan terlupakan. Seperti yang penyair ungkapkan dalam sepatah kata
penyair sebagai pembuka buku, bahwa kumpulan sajak yang ditulisnya adalah
sebuah persembahan pada Ayahnya yang telah tinggal dalam keabadian.
Bagaimanapun, seorang penyair atau penulis tak akan luput dari ingatan akan
keluarga atau sebuah masa yang telah dilewati dalam hidupnya. Begitupun dengan
Choi, Jun yang mengangkat suatu masa selama ia tinggal di Indonesia dan
beberapa tulisannya yang membicarakan seorang Ayah seperti pada puisi "Kenangan, Cibubur" dan "Nyanyian Kambing Papa". Walaupun sajak-sajaknya
tidak keseluruhan membicarakan seorang Ayah, tapi sajak-sajaknya sedikitnya
telah terpengaruh akan kepergian Ayah dalam hidupnya. Terlebih Ayahnyalah yang
mengajaknya tinggal di Indonesia 10 tahun lalu.
Kedalaman
akan sesuatu yang direkam oleh Choi, Jun pada sajaknya tertuang pada rima yang
memerhatikan bunyi yang terbangun di sajak "Nyanyian
Kambing Papa" pada bait satu; kusadari,
ternyata dunia yang kudiami dulu/serupa kidung, juga tangisan tanpa
ujung/Tangisan menjelma nyanyian, terkadang nyanyian menjelma tangisan/Masa
yang menyenangkan untuk lahir dan tumbuh/mengalir di dalam dan luar tubuh. Hal
itu berada pula pada sajak berjudul "Pangeran
Hutan Rimba" pada bait terakhir; Sebentar
lagi, matahari dan bulan akan mengering/Tak ada sayap untukku, wahai
cendrawasih/ yang tak kunjung tiba, yang akhirnya tiada/ Menunggu membuatku
menua, bahkan sebelum terlahir/ ke dunia. Begitupun dengan sajak "Wanita Suku Sunda" pada bait kedua. Rima yang
memerhatikan bunyi pada tiga sajak ini menambah kedalaman sajak yang ditulis
penyair.
Kedalaman sajak-sajak Choi, Jun tak lepas dari upaya
Kim Young Soo dan Nenden Lilis A sebagai penerjemah. Penerjemah merupakan orang
yang berasal dari negara yang berbeda, Kim Young Soo berasal dari negara yang
sama dengan penyair, sedangkan Nenden Lilis A berasal dari Indonesia. Tentu
saja, campur tangan kedua penerjemah hadir pada upayanya untuk menerjemahkan dengan
puitis, terlebih perbedaan medium sajak dari Bahasa Korea ke Bahasa Indonesia.
Sehingga sajak-sajak yang diterjemahkan ke Indonesia dipadankan dengan estetika
dalam Bahasa Koreanya.
Penerjemah memiliki peran yang penting dalam dunia
penerjemahan. Pembaca akan lebih memahami suatu karya yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasanya dibanding membaca suatu karya dengan bahasa yang kurang
dipahami atau bahasa yang berbeda. Sehingga kehadiran Kim Young Soo dan Nenden
Lilis A sangatlah penting dalam menerjemahkan karya Choi, Jun. Berkat merekalah
karya Choi, Jun bisa dinikmati oleh kebanyakan orang di Indonesia.
Gaya
pengungkapan penyair mengalir tanpa melupakan struktur pembangun sajaknya
sendiri, seperti pemilihan diksi yang diambil dapat membangun larik dalam
sajaknya yang sangat khas hingga dapat menggambarkan sejauh mana kedalaman
penyair akan suatu hal yang direkamnya. Penyair sendiri banyak mengemas
sajak-sajaknya dengan penggambaran kondisi alam yang dirasakannya. Barangkali
bagi sebagian orang, membaca sajak-sajak penyair asal Korea ini akan sedikit
mengingatkan pada seorang penyair asal Yogyakarta (Indrian Koto) yang gaya
kepenulisannya hampir mirip. Kemiripan gaya penulisannya tercermin dari apa
yang dipotret oleh penyair dan kedalaman penyair memandang suatu hal. Namun,
tentunya hal yang berbeda tercermin pada Choi, Jun sebab dia merupakan penyair
Korea yang tinggal di Indonesia selama lima tahun. Kekagumannya akan Indonesia
terpotret dan tertuang dalam 61 sajaknya mengenai lingkungan, sosial yang
dialaminya. Keseluruhan sajak-sajak Choi, Jun kentara akan kesedihan,
kesendirian, pandangan hidup, dan nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan.
Imajinasi-imajinasi
yang digambarkan oleh Choi, Jun memiliki makna yang mendalam seperti pada sajak
"Bulan Purnama untuk Malam ini". Sajak
ini menggambarkan seorang anak yang memakan roti sendirian sedangkan
warung-warung telah tutup. Roti-roti yang digambarkan oleh penyair tidak lain
merupakan bulan yang melayang di atas kubah mesjid. Kecerdikan penyair tampak
terlihat ketika mengolah bagaimana bulan yang melayang dijadikannya sebuah roti
untuk anak kecil yang kelaparan.
Jika
diperhatikan lebih dalam, Choi, Jun bisa dikatakan seorang penyair yang cerdik
memotret sebuah lingkungan berupa sosial, tradisi, ataupun budaya yang berbeda
dengan negaranya dengan penulisan sajak-sajaknya dalam kumpulan sajak Orang Suci, Pohon Kelapa. Namun
sayangnya, dalam kumpulan sajaknya memiliki kekurangan yang entah disengaja
atau tidak. Kesalahan itu berada pada sajak Bulan
Purnama untuk Malam ini pada larik ketujuh /seperi malam ini, kulihat seorang anak/. Disadari atau tidak, diksi
/seperi/ tampak sebuah kesalahan yang
sedikit fatal sebab akan mengubah makna dalam larik tersebut. Barangkali diksi
yang benar adalah /seperti/ sehingga
larik menjadi /seperti malam ini, kulihat
seorang anak/. Barangkali hal ini merupakan kesalahan editor. Peri seperti
apa yang dimaksud oleh penyair jika diksi yang benar adalah /seperi/? Terlebih larik sebelumnya /Saat aku menyerah untuk tak tidur/
merupakan pengantar untuk larik /seperi
malam ini, kulihat seorang anak/. Berdasarkan larik tersebut sangatlah
jelas bahwa editor kurang jeli dalam mengedit tulisan penyair.
Sajak-sajak
Choi, Jun telah membuat kacamata ingatan yang terekam olehnya tak terlupakan
dan tenggelam begitu saja. Seolah Choi, Jun membagi pada pembaca agar mengenang
ingatan dan perjalannya selama di Indonesia. Maka baiknya kita mengapresiasi
Choi, Jun yang sukses membuat sajak-sajaknya mendapat kesan yang mendalam
dengan segala kelebihan dan kecerdikannya dalam menggambarkan perjalannya selama
di Indonesia. Barangkali kacamata ingatan perjalan penyair akan menggenang
dalam bola-bola mata pembaca yang mengikuti perjalanan penyair lewat setiap
sajak-sajaknya yang memberikan kesadaran akan lingkungan terdekat dengan kita
yang terkadang dianggap sepele.
Komentar
Posting Komentar